Kistoday — Dinamika harga kebutuhan pokok kembali menjadi sorotan. Kali ini, aksi cepat dilakukan oleh Babinsa Koramil 1615/Haurgeulis, Kusno Wardhana, yang turun langsung ke lapangan untuk memastikan stabilitas harga sembako di wilayah Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Sabtu pagi (18/4/2026).
Pemantauan yang dilakukan sejak pukul 08.30 WIB tersebut menyasar sejumlah kios dan toko sembako di pasar daerah. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengawasan rutin guna menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.
Dalam hasil pantauan tersebut, ditemukan adanya fluktuasi harga pada beberapa komoditas penting. Meski sebagian harga terpantau stabil, sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan maupun penurunan yang cukup signifikan.
Beras medium misalnya, yang sebelumnya berada di angka Rp13.200 per kilogram, kini mengalami sedikit penurunan menjadi Rp13.000. Penurunan ini disambut positif oleh masyarakat karena beras merupakan kebutuhan utama rumah tangga.
Sementara itu, harga minyak goreng tetap stabil di angka Rp17.000 per kilogram. Komoditas lain seperti jagung dan kedelai lokal juga tidak mengalami perubahan harga, masing-masing bertahan di Rp13.000 dan Rp10.000 per kilogram.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada gula pasir. Harga komoditas ini justru mengalami kenaikan dari Rp17.000 menjadi Rp17.500 per kilogram. Kenaikan ini menjadi perhatian karena gula termasuk bahan pokok yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Di sisi lain, kabar baik datang dari komoditas bawang merah yang mengalami penurunan cukup tajam. Dari harga sebelumnya Rp35.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp30.000. Penurunan ini dinilai dapat membantu meringankan beban pengeluaran masyarakat.
Untuk bawang putih, harga masih stabil di angka Rp40.000 per kilogram tanpa perubahan. Namun, telur ayam justru mengalami kenaikan harga, yang kini berada di kisaran Rp32.000 per kilogram, menambah daftar komoditas yang mengalami tekanan harga.
Sementara itu, harga daging sapi masih bertahan di angka Rp140.000 per kilogram, menunjukkan stabilitas pada komoditas protein tinggi tersebut. Berbeda dengan daging ayam yang justru mengalami penurunan dari Rp37.000 menjadi Rp35.000 per kilogram.
Menurut Kusno Wardhana, kegiatan pemantauan ini penting dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tidak terkendali serta menjaga daya beli masyarakat.
“Pemantauan ini bertujuan untuk memastikan harga tetap dalam batas wajar dan tidak memberatkan warga. Kami juga berkoordinasi dengan pedagang untuk mengetahui penyebab naik turunnya harga,” ujarnya di sela kegiatan.
Selain memantau harga, kehadiran Babinsa di pasar juga memberikan rasa aman bagi para pedagang dan pembeli. Selama kegiatan berlangsung, situasi dilaporkan dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya gangguan.
Langkah proaktif ini menjadi bukti nyata peran aparat teritorial dalam menjaga stabilitas ekonomi di tingkat lokal. Dengan turun langsung ke lapangan, Babinsa tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Fluktuasi harga sembako memang menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari, terutama menjelang periode tertentu atau akibat faktor distribusi dan pasokan. Namun, dengan pemantauan rutin seperti ini, diharapkan gejolak harga dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Pemerintah bersama aparat terkait akan terus berupaya menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan bahan pokok di pasaran.
Dengan kondisi yang masih terkendali dan pengawasan yang terus dilakukan, diharapkan kebutuhan pokok masyarakat di wilayah Haurgeulis tetap terpenuhi tanpa gejolak harga yang signifikan.






