Di Afrika, terutama di Kenya, industri teknologi telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik kemajuan ini, terdapat kisah tentang pekerjaan yang tidak stabil dan kurangnya perlindungan bagi pekerja. Baru-baru ini, sebuah perusahaan Kenya bernama Sama, yang telah bekerja sama dengan Meta untuk melakukan moderasi konten dan pelatihan AI, mengumumkan bahwa lebih dari 1.000 pekerja akan dipecat setelah Meta menghentikan kontrak dengan mereka.
Keputusan Meta untuk menghentikan kontrak dengan Sama disebabkan oleh tuduhan bahwa beberapa pekerja Kenya yang terlibat dalam pelatihan AI diminta untuk melihat konten yang difilmkan menggunakan kacamata pintar AI Meta, yang menunjukkan pengguna menggunakan toilet atau melakukan hubungan seksual. Ini menimbulkan pertanyaan tentang etika dan perlindungan data dalam industri teknologi. Sama, dalam sebuah pernyataan, mengaku bahwa keputusan ini akan berdampak pada tim mereka dan berjanji untuk mendukung pekerja yang terkena dampak dengan "perawatan dan rasa hormat".
Tantangan Pekerjaan di Sektor Teknologi
Pengangguran massal ini menimbulkan pertanyaan tentang ketidakstabilan pekerjaan di sektor teknologi, terutama di negara-negara berkembang. Kauna Malgwi, seorang mantan pekerja Sama, mengatakan bahwa masalah ini tidak terbatas pada satu perusahaan atau kontrak, tetapi menunjukkan bagaimana industri AI global dibentuk, di mana kekuasaan berada di tangan perusahaan teknologi besar, dan risiko mengalir ke bawah, mempengaruhi pekerja yang dioutsourcing, sering di negara-negara berkembang, yang memiliki perlindungan paling sedikit dan paparan tertinggi.
Oversight Lab, sebuah organisasi yang mendukung regulasi dan penerapan teknologi yang adil di Afrika, mengatakan bahwa waktu telah tiba untuk mengakui bahwa strategi saat ini merugikan pemuda, merusak perekonomian, dan tidak mendukung partisipasi Kenya dalam ekosistem AI. Pengangguran massal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana perusahaan teknologi besar dapat memastikan bahwa pekerja mereka, terutama di negara-negara berkembang, memiliki perlindungan yang cukup dan pekerjaan yang stabil.
Sumber: World news | The Guardian






