Di Afrika Selatan, pemimpin partai Economic Freedom Fighters, Julius Malema, baru-baru ini dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena menembakkan senapan di udara pada sebuah rally politik di tahun 2018. Keputusan ini telah memicu reaksi keras dari pendukung Malema dan telah menimbulkan pertanyaan tentang masa depan partai yang dipimpinnya.
Malema, yang juga merupakan anggota parlemen, telah melakukan tindakan tersebut pada saat perayaan ulang tahun kelima partainya di KuGompo City. Hakim Twanet Olivier menyatakan bahwa tindakan Malema tidak dapat dianggap sebagai tindakan impulsif atau kemarahan, melainkan sebagai sebuah kegiatan yang telah direncanakan. Olivier juga menekankan bahwa sebagai seorang pejabat publik, Malema harus bertanggung jawab atas tindakannya dan tidak dapat menggunakan alasan bahwa tembakan tersebut hanya untuk merayakan saja.
Reaksi dan Dampak
Malema telah mengajukan banding atas putusan hakim dan akan tetap bebas sampai proses banding selesai. Sementara itu, partai Economic Freedom Fighters telah menyatakan dukungan penuh kepada Malema dan menyatakan bahwa putusan hakim tersebut merupakan sebuah bentuk diskriminasi rasial. Malema sendiri telah menyatakan bahwa dirinya akan terus memperjuangkan hak-hak rakyat Afrika Selatan dan tidak akan menyerah pada tekanan dari pihak lawan.
Putusan ini juga telah menimbulkan pertanyaan tentang masa depan partai Economic Freedom Fighters dan kemampuan Malema untuk tetap menjadi pemimpin partai. Jika hukuman lima tahun penjara ini tidak dapat dibatalkan, maka Malema akan kehilangan haknya untuk menjadi anggota parlemen. Namun, untuk saat ini, Malema tetap menjadi pemimpin partai dan akan terus memperjuangkan hak-hak rakyat Afrika Selatan.
Sumber: World news | The Guardian






