Kistoday— Luapan air Sungai Cibuaya kembali memicu banjir di wilayah Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Sejak Kamis (29/1/2026) dini hari, banjir merendam Jalan Raya Terisi–Tempel serta ratusan hektare pesawahan warga di Desa Pangauban. Aparat TNI dan unsur terkait langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi warga dan memantau perkembangan debit air.

Babinsa Koramil 1612/Peltu Rudiyanto menjadi salah satu personel yang berada di lokasi sejak pukul 05.00 WIB. Ia melakukan monitoring langsung di titik-titik terdampak, termasuk jalan raya utama yang menjadi akses vital masyarakat serta area pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga setempat.

“Luapan Sungai Cibuaya menggenangi Jalan Raya Terisi–Tempel dengan ketinggian air di titik terdalam sekitar 30 sentimeter. Selain itu, pesawahan masyarakat yang terdampak diperkirakan mencapai kurang lebih 400 hektare,” ujar Peltu Rudiyanto saat dikonfirmasi di lokasi.

Banjir yang terjadi kali ini disebut sebagai banjir kiriman, dipicu tingginya debit air dari hulu sungai akibat curah hujan intens di wilayah sekitar. Genangan air di badan jalan membuat arus lalu lintas terganggu, terutama kendaraan roda dua dan kendaraan kecil yang melintas di jalur tersebut.

Sejumlah pengendara terlihat harus ekstra hati-hati saat melintasi genangan, sementara warga sekitar memilih menunda aktivitas di sawah karena lahan pertanian mereka terendam cukup luas. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gagal panen, terutama bagi petani yang baru saja menanam padi.

Dalam kegiatan monitoring tersebut, Peltu Rudiyanto tidak bekerja sendiri. Satgas Penanggulangan Bencana setempat juga berada di lokasi untuk memantau perkembangan situasi. Unsur yang terlibat di antaranya Kuwu Pangauban Daya, Babinsa Desa Pangauban Sertu Sukron, serta Bhabinkamtibmas Polsek Lelea Bripka Joko.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat kepolisian untuk memastikan situasi tetap terkendali. Saat ini fokus kami adalah pemantauan debit air dan keselamatan masyarakat,” tambah Peltu Rudiyanto.

Hingga saat ini, laporan kerugian personel nihil, tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengalami luka-luka akibat banjir. Namun, kerugian materiil diperkirakan cukup signifikan, terutama pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga Desa Pangauban dan sekitarnya.

Banjir yang merendam pesawahan seluas ratusan hektare dikhawatirkan berdampak pada produksi padi di wilayah tersebut. Jika genangan tidak segera surut, tanaman padi berpotensi rusak atau membusuk, sehingga petani terancam mengalami kerugian besar.

Sementara itu, kondisi cuaca di lokasi dilaporkan masih gerimis, yang berpotensi menambah volume air di sungai dan memperpanjang masa genangan. Aparat di lapangan terus mengimbau warga untuk tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan wilayah rawan banjir.

Kuwu Desa Pangauban, Daya, mengatakan pihak desa telah mengaktifkan mekanisme siaga bencana dan siap berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kabupaten apabila kondisi memburuk. “Kami sudah siaga, dan jika debit air meningkat, kami akan segera melakukan langkah-langkah mitigasi sesuai prosedur,” ujarnya.

Kehadiran Babinsa Peltu Rudiyanto dan personel lainnya di lokasi dinilai penting untuk memastikan respons cepat terhadap potensi bencana lanjutan. Selain melakukan monitoring, aparat juga memberikan imbauan kepada warga agar menghindari aktivitas di area genangan, serta tetap memperhatikan keselamatan diri.

Banjir musiman di wilayah Indramayu bukan kali pertama terjadi. Wilayah ini dikenal sebagai daerah lumbung padi nasional, namun juga rawan banjir akibat kondisi geografis dan sistem aliran sungai yang kompleks. Sungai Cibuaya menjadi salah satu sungai yang kerap meluap saat curah hujan tinggi, terutama jika terjadi kiriman air dari daerah hulu.

Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi dan langkah jangka panjang, seperti normalisasi sungai, perbaikan tanggul, serta penguatan sistem drainase, guna mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terkait mitigasi bencana juga dinilai penting untuk meminimalkan dampak saat banjir terjadi.

Untuk saat ini, Peltu Rudiyanto dan Satgas Penanggulangan Bencana akan terus berada di lokasi hingga situasi dinyatakan aman. Pemantauan debit air sungai dilakukan secara berkala, sembari menunggu perkembangan cuaca dan kondisi hulu sungai.

“Apabila terjadi peningkatan debit air yang signifikan, kami siap melaporkan secara berjenjang dan melakukan langkah-langkah penanganan sesuai perintah komando,” tegas Peltu Rudiyanto.

Banjir di Desa Pangauban menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan aparat dan masyarakat sangat krusial dalam menghadapi bencana alam. Dengan sinergi antara TNI, Polri, pemerintah desa, dan warga, diharapkan dampak banjir dapat diminimalkan, serta keselamatan dan ketahanan ekonomi masyarakat tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *